Kembangan yang masih terlihat tebal bukan jaminan. Karet punya umur, dan umurnya tercetak di dinding ban.
Kebanyakan orang mengganti ban ketika kembangannya sudah habis. Itu benar, tetapi tidak lengkap — karena ban juga menua meski jarang dipakai.
Mulai dari yang paling mudah dilihat: indikator keausan. Di sela kembangan ban ada tonjolan kecil yang disebut TWI, biasanya ditandai segitiga kecil di dinding ban. Bila permukaan ban sudah rata dengan tonjolan itu, ban harus diganti, tidak peduli baru berapa bulan. Ban yang menipis kehilangan kemampuan membuang air, dan itu terasa persis pada saat Anda paling membutuhkannya.
Yang lebih sering terlewat adalah umur karetnya. Di dinding ban ada empat angka dalam lingkaran oval, misalnya 2624. Dua angka pertama adalah minggu, dua terakhir adalah tahun — jadi 2624 berarti ban itu diproduksi pada minggu ke-26 tahun 2024. Karet ban mulai mengeras dan retak halus setelah sekitar lima tahun, bahkan bila motornya lebih sering diparkir daripada dipakai. Ban keras kehilangan daya cengkeram, terutama di jalan basah.
Periksa juga retakan halus di sela kembangan dan di dinding ban. Retak yang sudah terlihat jelas tanpa perlu meregangkan karetnya adalah tanda ban perlu diganti, berapa pun sisa kembangannya.
Tekanan angin berpengaruh lebih besar daripada yang orang kira. Ban yang kurang angin membuat konsumsi bahan bakar naik, tepi ban aus lebih cepat, dan motor terasa berat saat berbelok. Cek setiap dua minggu dalam keadaan ban dingin, dan ikuti angka yang tertera di stiker motor — bukan angka maksimum yang tercetak di ban.
Satu hal terakhir: bila mengganti hanya satu ban, dahulukan yang belakang bila motor Anda matic dan sering berboncengan, dan yang depan bila Anda sering melewati jalan basah. Idealnya keduanya diganti bersamaan agar karakter cengkeramnya seimbang.
