Bukan soal mana yang lebih bagus, tapi mana yang cocok dengan jalan yang Anda lewati setiap hari. Ini pertimbangan jujurnya.
Pertanyaan "bagusan matic atau bebek" tidak punya jawaban tunggal, dan siapa pun yang menjawabnya dengan yakin biasanya sedang menjual sesuatu. Yang lebih berguna adalah menimbangnya dari rute harian Anda.
Motor matic unggul di jalan padat dan berhenti-jalan. Tidak ada kopling dan gigi yang harus diurus, ruang di dek depan bisa menampung barang, dan bagasi di bawah jok cukup untuk helm atau belanjaan. Konsekuensinya: konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros dibanding bebek pada jarak jauh, dan ban belakang lebih cepat habis. Untuk perjalanan dalam kota di bawah 20 kilometer sehari, matic hampir selalu pilihan yang benar.
Motor bebek masuk akal bila rute Anda campuran — dalam kota tetapi rutin keluar ke jalan yang lebih lengang. Ia lebih irit, rangkanya lebih tahan beban, dan biaya perawatannya paling rendah di antara ketiganya. Kekurangannya jelas: harus mengoper gigi di kemacetan, dan tidak ada ruang penyimpanan yang berarti.
Motor sport cocok bila jarak tempuh harian Anda jauh dan jalannya relatif lancar. Posisi duduk yang menunduk membuat badan tidak cepat lelah di kecepatan menengah, dan pengereman serta suspensinya umumnya lebih baik. Tetapi di kemacetan, posisi itu justru menyiksa pergelangan tangan dan punggung, dan konsumsi bahan bakarnya paling boros.
Ada satu pertimbangan yang jarang dibahas: siapa lagi yang akan memakai motor ini. Kalau sesekali dipinjam anggota keluarga yang tidak terbiasa dengan kopling, matic menghapus seluruh persoalan itu. Kalau motor akan dipakai berboncengan setiap hari, perhatikan tinggi jok dan lebar bagian belakangnya.
Terakhir, pikirkan saat menjualnya kembali. Motor matic dari merek besar paling cepat laku di pasar bekas dan harganya paling stabil. Motor sport dengan cc besar jauh lebih lama menunggu pembeli, meski kondisinya bagus.
